BESTIENEWS.COM- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan pertumbuhan kredit perbankan berada di kisaran 10 hingga 12 persen pada 2026. Target tersebut sejalan dengan optimisme regulator terhadap kinerja sektor jasa keuangan yang dinilai tetap berkelanjutan meski menghadapi tantangan global.
Pejabat Sementara (Pjs) Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyampaikan proyeksi tersebut disusun dengan mempertimbangkan tantangan, peluang, serta arah kebijakan. Ia menyebut kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan sektor jasa keuangan yang berkualitas.
"Kami mencermati berbagai tantangan dan peluang yang dihadapi, serta kebijakan yang saat ini kami ambil. OJK optimistis kinerja sektor jasa keuangan akan tumbuh berkelanjutan pada 2026," ujarnya dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) 2026, Jakarta, Kamis, 5 Februari 2026.
Ia menjelaskan, pertumbuhan kredit perbankan diperkirakan akan ditopang dana pihak ketiga (DPK) yang diproyeksikan tumbuh 7 hingga 9 persen. Likuiditas yang memadai dinilai menjadi kunci agar perbankan tetap ekspansif menyalurkan pembiayaan ke sektor riil.
OJK juga memproyeksikan subsektor aset industri asuransi tumbuh 5 hingga 7 persen, sementara aset dana pensiun ditargetkan meningkat 10–12 persen pada 2026. Selain itu, program penjaminan diproyeksikan tumbuh 14 hingga 16 persen secara tahunan.
Di sisi lain, piutang perusahaan pembiayaan diperkirakan naik 6 hingga 8 persen seiring meningkatnya konsumsi dan pembiayaan produktif. Dari pasar modal, penghimpunan dana ditargetkan mencapai Rp250 triliun sepanjang 2026, menegaskan peran strategis pasar modal sebagai sumber pembiayaan jangka panjang.
Pada sektor keuangan digital, total permintaan skor kredit diproyeksikan mencapai sekitar 200 juta permintaan. Nilai transaksi melalui agregator keuangan diperkirakan menembus Rp27 triliun, mencerminkan meningkatnya adopsi teknologi sekaligus perluasan inklusi keuangan nasional.
Sementara itu, pemerintah mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,11 persen sepanjang 2025. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi 2024 yang tercatat sebesar 5,03 persen.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menilai tren pertumbuhan ekonomi nasional terus membaik dari kuartal ke kuartal. Ia menyebut performa ekonomi semakin kuat seiring pemulihan aktivitas produksi dan konsumsi masyarakat.
"Dibandingkan beberapa negara relatif situasinya baik dan kalau kita lihat kuartal per kuartal itu terus baik. Ini adalah tertinggi dari 4 kuartal yang lalu," ujar Airlangga.
Airlangga menjelaskan sektor perindustrian tumbuh sekitar 5,4 persen sebagai penggerak utama ekonomi nasional. Sektor pertanian dan perdagangan juga berkontribusi besar, menyumbang lebih dari 40 persen struktur ekonomi Indonesia.
Ia menilai pertumbuhan ekonomi dipengaruhi program stimulus pemerintah yang digulirkan sepanjang tahun sebelumnya. Program tersebut mencakup Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sektor properti serta PPh karyawan bergaji di bawah Rp10 juta.
"Ditambah lagi dengan dari sektor konsumsi juga positif. Jadi program yang digelontorkan pemerintah itu membuahkan hasil di kuartal keempat," ujarnya.