BESTIENEWS.COM- Alamsyah tampak yakin dengan cara ia menyeduh biji kopi yang disediakan panitia, cuma butuh Waktu 5 menit bijih kopi Liberika sudah tersaji pada cangkir bertakaran 150 cc.
Bagi dia menang atau kalah tidak masalah, yang penting ingin memeriahkan acara dan bisa bertukar pengalaman.
"Walau saya belum berhasil pada babak penyisihan ini namun bangga karena bisa ikut pada acara yang diselenggarakan Bank Indonesia (BI) Riau, ini menambah pengalaman saya," kata Alamsyah pada acara Brewers Cup Competition di ajang Karya Riau bertuah, Rabu (1/7/2026) di Living Word.
Dia salah satu dari 27 peserta lomba yang datang dari Siak, dengan mengandalkan teknik
Aeropress saat menyeduh kopi, ia berharap bisa unggul dari pesaing lainnya.
"Harapan saya kompetisi seperti ini lebih terbuka luas pesertanya bukan saja barista akan tetapi bisa pencinta kopi," harapnya.
Sementara itu Hafidh Amrullah, Kepala Tim Implementasi KEKDA KPw Bank Indonesia Provinsi Riau menyatakan, Bank Inonesia melakukan kegiatan Karya Riau di Living World Pekanbaru mulai 30 Juni hingga 5 Juli 2026. Ini ajang tahunan guna pengembangan UMKM dan digitalisasi sistem pembayaran.
Pengunjung mall dapat menikmati berbagai agenda, mulai dari pameran produk UMKM sektor kuliner, wastra (fesyen), kriya, hingga pojok kopi yang menampilkan beragam olahan kopi lokal.
"Hari ini rangkaian kegiatan mengusung tema "Riau Berkopi" dengan agenda utama Brewers Cup Competition, yakni kompetisi bagi barista lokal dalam mengolah kopi Liberika khas Riau menjadi sajian terbaik," kata Hafidh.
Ia menjelaskan lewat ajang ini barista - barista lokal Riau bisa memperoleh pengalaman bagaimana mengolah kopi Liberika. Selain itu, BI juga mencoba memperkenalkan dan mengangkat kopi liberika ini kepada masyarakat luas.
BI juga mengundang pengusaha kopi Liberika Excel wonosalam dari Jombang Jawa Timur, ini penting bagi pelaku pengembangan kopi liberika di Riau untuk bisa membandingkan, sebetulnya posisi mereka saat ini dalam hal pengembangan itu sampai mana atau seperti apa dibandingkan dengan pengembangan yang ada di luar sana.
"Karena tadi kami sempat ngobrol-ngobrol juga dengan nara sumbernya bahwa kalau di sini misalnya kopi liberika itu dijual 1 kilo di harga enggak sampai Rp200.000 di sana sudah bisa menjual 1 kilo tuh di harga mulai dari Rp500.000 per kilo paling mahal itu Rp650.000," katanya.
Jadi memang nilai tambahnya sudah sangat tinggi sekali di Jombang, sehingga BI berharap juga melalui event-event ini bagaimana caranya teman-teman pelaku kopi liberika di Riau juga bisa melangkah ke arah yang seperti itu sehingga mereka juga bisa mendapatkan nilai tambah.
Ia menambahkan dari lomba-lomba seperti ini BI ingin mengenalkan kopi lokal sebagai bagian dari upaya pengembangan potensi ekonomi.
"Kami juga merasa terpanggil untuk bisa terlibat mendorong UMKM dan dengan mengkompetisikan kopi itu. Ternyata kompetisi itu berpengaruh juga terhadap harga kopi, karena ketika kopi-kopi itu tadi dikompetisikan ini jadi punya nilai jual, ini loh kopi yang menang kompetisi di sana gitu. Kemudian Karena dia sudah punya branding dia punya punya nama akhirnya itulah yang ikut mendorong nilai jual si kopinya itu sendiri," tambahnya.